Tentara ini di Luar Ramadhan pun Bisa Khatam Qur’an 10 Hari


Tentara ini di Luar Ramadhan pun Bisa Khatam Qur’an 10 Hari [1]

Memang, membaca al-Qur'an seorang diri di ruang publik tampaknya kebiasaan langka di Indonesia. Tapi bagi Suharyanto itu 'biasa saja'.

Bekal itu sudah ia keluarkan sedari tadi. Ia sedang menahan lapar dan haus, sejak sekitar subuh belum makan dan minum. Namun, bukannya memasukkan ke mulut, bekal itu hanya dipegang dan dilihat terus menerus.

Orang ini sedang berpuasa. Siang itu, waktu maghrib tanda berbuka puasa memang belum tiba. Tapi bukan itu alasannya “mendiamkan” bekalnya.

Jelas saja, karena itu bukanlah makanan atau minuman. Ini bekal ruhani untuk masa depannya. Ialah al-Qur’an.

Suharyanto, orang itu, sedang melahap bacaan al-Qur’an pada bagian akhir Surat Luqman di halaman 414 dan 415. Mushaf cukup besar seukuran laptop 15 inci itu dibuka lebar di atas kedua pahanya.

Bisa dipastikan, semua orang di sekitarnya, bisa mengetahui Suharyanto berprofesi sebagai dan sedang melakukan apa. Di dada kiri pria itu terlihat jelas tulisan kapital; “TNI AL”.

Inilah yang membedakan Suharyanto dengan 50-an orang di situ. Jika yang lain berpakaian sipil, ia berseragam hijau loreng dan bersepatu laras. Ya! Dia anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.

Tentara memanggul senjata api itu biasa, tapi kalau memangku mushaf al-Qur’an di tengah keramaian, tentu terlihat istimewa. Tambah kontras, saat yang lain asyik dengan telepon genggam dan tidur masing-masing.

Pria berpangkat Sersan Kepala ini duduk di gerbong sebuah kereta rangkaian listrik. Dalam perjalanan Jakarta-Bogor itu, ia menjadi perhatian tersendiri oleh banyak penumpang.

Memang, membaca al-Qur’an seorang diri di ruang publik tampaknya kebiasaan langka di Indonesia. Tapi bagi Suharyanto itu ‘biasa saja’. Sebab ia sudah terbiasa membaca al-Qur’an di atas KRL.

Tak Sekadar Dibaca

“Jedeg jedeg… Jedeg jedeg…”

Suara khas laju kereta menemani Suharyanto yang tenggelam dalam bacaannya. Ia mengaku sudah lupa, sejak kapan mulai rajin membaca al-Qur’an di atas KRL.

Yang jelas “Sudah lama,” jawab pria berusia 34-an tahun ini diplomatis saat ditemui hidayatullah.com.

Saban hari, tuturnya, ia selalu menyempatkan diri membaca al-Qur’an. Di rumah, di kantor, termasuk di dalam KRL tiap pergi-pulang (PP) berdinas. “Alhamdulillah, tiap hari, pagi-sore (baca al-Qur’an),” tuturnya.

Ia pun mengaku, sebelum pergi kerja, selalu menyempatkan shalat subuh berjamaah di mushalla Stasiun Bojonggede, Bogor, stasiun terdekat dari rumahnya.

Habis shalat baru naik KRL. Lalu mengambil posisi nyaman langganannya, sebelah kiri gerbong dekat pintu. Jika tak kebagian tempat duduk, ia berdiri, lalu mengeluarkan mushaf dari tas ranselnya.

“Di dalam gerbong kita baca al-Qur’an sampai stasiun tujuan saya. Alhamdulillah, kalau pagi saya berangkat itu kereta enggak padat,” ungkap anggota Korps Marinir yang berdinas di Mako Pasmar-2, Jl Kwini II, Jakarta Pusat ini.



Serka Suharyanto tampak asyik membaca al-Qur’an, kontras dengan aktivitas para penumpang KRL lainnya. [Foto: Syakur/hidayatullah.com]

Menariknya, ia mengaku tak sekadar membaca ayat demi ayat. Tapi juga mencoba memahami maknanya. Makanya ia memilih selalu membawa mushaf al-Qur’an dan terjemahannya, termasuk hari itu.

“Jadi kata-kata yang kira-kira saya janggal, saya kira-kira asing, saya tanya (lihat terjemahan. Red) ini artinya apa,” tuturnya.

Pun demikian sepulangnya dari kantor, rutinitas serupa ia lakoni. Jika kebagian tempat duduk tentu lebih nyaman membaca al-Qur’an. Seperti siang itu saat dia “tertangkap basah” oleh  hidayatullah.com yang naik di Stasiun Cawang, Jakarta Timur

Bekal Menjaga NKRI

Suatu kesyukuran jika seseorang punya hobi membaca, baik majalah, koran, dan sebagainya. “Itu bisa menambah wawasan,” ungkap Suharyanto kepada hidayatullah.com.

Namun, lebih dari itu, ia mengaku lebih suka membaca wahyu-wahyu Allah, “karena di dalam al-Qur’an itu semua itu ada.”

Termasuk di dalamnya terdapat panduan dan bekal untuk menjalani kehidupan di dunia. Ini diyakini Suharyanto. Apalagi, selaku anggota TNI yang bertugas di garda terdepan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai tentara, menjaga kedaulatan NKRI memang tak cukup hanya bermodalkan teori, ilmu, senjata, pun kedisiplinan militer.

Sebagai seorang Muslim, Suharyanto mengakui, menjaga bangsa ini membutuhkan bekal spiritual, termasuk dengan membaca, memahami, apalagi mengamalkan al-Qur’an.

Dan tentunya, al-Qur’an juga mesti dijaga kesuciannya. Karena itulah, Suharyanto merasa sedih atas kasus penistaan al-Qur’an oleh seorang pejabat yang menghebohkan Indonesia belakangan ini.

“Saya memang tak berkapasitas berbicara ini,” tetapi sebagai seorang Muslim, katanya sambil berdiri, “Hati saya menangis,” lantas ia memegang dadanya.



Salah satu bekal menuju akhirat adalah membaca al-Qur’an, kata Suharyanto. [Foto: Syakur/hidayatullah.com]

Omong-omong, apa resepnya punya kebiasaan alias hobi membaca al-Qur’an?
Ditanya demikian, Suharyanto bukannya langsung menjawab. Pria berdarah Jawa ini malah bilang, “Mendengar sampeyan barusan jadi merinding sendiri saya.”

Loh?

Rupanya, saat disebut perihal kebiasaannya itu tergolong langka di era saat ini, Suharyanto malah teringat ‘kampung halamannya’ di masa depan. Dimana saat ini, kata dia, sudah memasuki akhir zaman.

“Bekal apa yang akan kita bawa untuk di hari esok?” ungkapnya. Pertanyaan ini menggugah jiwanya.

Laksana seorang ustadz, ia bertutur bahwa semua manusia di dunia pasti akan mengalami hari pembalasan. Karena itu, selama hidup, harus disiapkan bekal menuju akhirat dengan memperbanyak amal shaleh.

Seperti sedekah jariyah, membaca al-Qur’an, dan sebagainya, “Yang bisa kita bawa ke alam akhirat itu,” ungkap tentara yang mengaku tak pernah mengenyam pendidikan di pesantren ini.

Renungan itulah yang menjadi salah satu alasan atau resep Suharyanto sehingga tekun membaca al-Qur’an.

Selain itu, alasan lainnya, karena terilhami oleh wahyu pertama yang diturunkan Allah Subhanahu Wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. “Itu apa? Iqra’! Iqra’!, Baca! Baca!” terangnya.

Sekali Jalan 1 Juz

Beberapa saat setelah membaca bagian akhir Surat Luqman, Suharyanto menutup al-Qur’an dan memasukkannya ke dalam tas. Sejurus kemudian, ia menutup wajahnya dengan topi lorengnya, lalu tidur sejenak sebelum tiba di stasiun tujuannya.

“Saya istirahatkan pikiran dan badan saya,” ungkapnya, yang mengaku siang itu juga sedang sangat mengantuk dan lelah.

“Pekerjaan lagi penuh, dan alhamdulillah hari ini, hari Kamis, saya lagi melaksanakan puasa (sunnah) juga,” akunya tersenyum kepada hidayatullah.com, seturunnya di Stasiun Bojonggede, tujuannya.

Memang, hari saat diwawancarai itu belum tiba bulan Ramadhan. Namun begitu, kedekatan Suharyanto dengan al-Qur’an saat itu, kalau dirata-rata, seperti Muslim kebanyakan yang jadi (tambah) dekat dengan al-Qur’an saat Ramadhan.

Bayangkan saja. Setiap satu kali perjalanan dengan KRL, pergi ke kantor, misalnya, ia mengaku bisa melahap satu juz al-Qur’an. Pulangnya pun begitu. Berarti, setiap PP minimal 2 juz ia baca. Belum selama di rumah atau kantor. Sebulan kira-kira ia bisa 2 kali khatam.

“Kalau cepat bisa selesai (khatam dalam) 10 hari,” ungkap Suharyanto.

Jika di luar Ramadhan saja bisa begitu akrab dengan al-Qur’an, saat Ramadhan tentu meningkat ya? Pria beristri satu dan dua anak ini tersenyum…



Sumber : hidayatullah.com


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Tentara ini di Luar Ramadhan pun Bisa Khatam Qur’an 10 Hari "

Posting Komentar