Kisah Raja Saudi 'Diselamatkan' Dukun Palembang dan Silat Padang




Syirik, khurafat dan takhayul tak mendapat tempat di Arab Saudi. Sebagai negara yang berpaham Wahabi, Saudi begitu keras terutama dalam soal ketauhidan. Segala hal berbau mistik dan klenik diberangus habis.

Namun pernah suatu masa, sang putra mahkota dan Raja Saudi sendiri, sadar atau tidak sadar, mengaitkan diri pada sesuatu hal berbau klenik. Tak tanggung-tanggung, kisah ini diceritakan langsung oleh ulama besar Indonesia yang punya kredibilitas sebagai panutan yaitu Haji Abdul Karim Malik Abdullah alias Buya Hamka.

Kisah ini dituturkan Hamka dalam bukunya yang berjudul Mandi Tjahaja di Tanah Sutji. Periode waktu yang diceritakan Hamka berlangsung pada masa Raja Abdul Aziz, raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Arab Saudi. Dia memimpin Saudi pada periode 1932-1952. Hamka tidak merinci secara detail tahun pasti kejadian ini berlangsung.

Hamka bercerita, pada suatu hari Amir Abdullah, putra Amir Faisal, jatuh dari atas kuda. Amir Abdullah adalah cucu dari Raja Abdul Aziz.

Hamka mengatakan, pada waktu itu, Amir Abdullah adalah sosok yang sangat disayangi neneknya, Tarfah binti Abdullah Al-Sheikh. Dibandingkan istri-istri lainnya, Raja Abdulaziz begitu menghargai Tarfah karena dia keturunan langsung dari Sheikh Muhammad bin Wahab, peletak dasar ajaran Wahabi.

Tarfah begitu mencintai Amir Abdullah sampai memberikan gelar pada sebagai "nisyfid dunia", alias separuh dunia. "Mukanya elok seperti ayahnya, dan gagah," tulis Hamka.

Akibat jatuh dari kuda, Amir Abdullah cedera parah.  Kakinya patah. Dokter-dokter yang ada di Mekkah memeriksa dan menyatakan bahwa cedera kaki sang Amir begitu parah. Satu-satunya solusi adalah amputasi. Kakinya mesti dipotong!

Kabar ini membuat gempar seantero negeri karena Amir Abdullah memang dipersiapkan sebagai raja di masa depan -- prediksi yang akhirnya betul-betul terjadi. Pada 2005, Abdullah dinobatkan sebagai Raja.

Sang kakek, Raja Abdulaziz dan sang ayah, Amir Faisal (yang akhirnya menjadi Raja Saudi pada 1964) merasa khawatir dengan Amir Abdullah.

Hamka bercerita, kabar sang penerus takhta akhirnya sampai kepada seorang dukun Indonesia, berasal dari Palembang. Alkisah, si dukun ini pun pergi menghampiri sang Raja. "Dia menyatakan tidak perlu kaki yang indah dari 'separuh dunia' itu dipotong. Dijamin," tulis Hamka.

Mendengar jawaban si dukun, Raja Abdulaziz dan Amir Faisal tercengang. Dokter-dokter kerajaan mencibirkan bibirnya.

Orang menunggu, apakah obat yang akan diberikan si dukun. Hamka bercerita, si dukun ternyata hanya meminta dicarikan sebatang rotan. Ya, hanya rotan.

Rotan itu pun kemudian disediakan. Di dekat Amir Abdullah yang meronta-ronta kesakitan dan Raja Abdullah serta Amir Faisal yang penasaran, si dukun mulai mengurut. Namun yang diurut itu bukan kaki sang cucu Raja, melainkan sekerat rotan yang dia minta.

Di Indonesia kultur pengobatan dengan memakai medium memang sudah berakar sejak zaman dulu. Medium pengobatan dengan benda perantara seperti sesajen, telur atau rotan sampai kini pun masih lazim terjadi.

Sambil mengurut Amir Abdullah, si dukun komat-kamit membaca mantera. "Sementara rotan itu diurutnya, Amir Abdullah memperkatupkan giginya sekeras-kerasnya menahan sakit."

Setelah diurut selama tiga hari berutut-turut, kaki itu sembuh dengan sendirinya. Pengobatannya pun sungguh ajaib karena lewat perantara rotan, kaki sang cucu Raja kembali normal, tak perlu lagi diamputasi.

Rasa takjub disiratkan oleh Raja. Apakah ini sihir? Jika betul sihir ini tentu cilaka. "Sebab sihir haram dalam islam. Haram dan dosa besar," tulis Hamka.

Sebagai negara menganut waham Wahabisme, sebuah gerakan ultrakonservatif yang menolak keras syirik, bid'ah dan khurafat, Saudi menerapkan hukuman tegas pada pelaku sihir. Ancamannya tak tanggung-tanggung: hukuman pancung.

Si dukun lalu dipanggil oleh raja. "Apakah ini sihir?" tanya Raja Abdulaziz.

"Tidak. Saya tidak ahli sihir."

"Mengapa rotan yang engkau urut, bukan kaki Amir?"

"Amir seorang mulia, tanganku tidak boleh menyentuhnya."

"Apakah yang engkau baca?" kejar Raja Abdulaziz.

"Doa kepada Tuhan, dengan itikad yang putus, dengan tauhid yang khalis, tidak mengharap dari pertolongan dari yang lain."

Raja heran dan amir-amir lain pun heran.

"Katakanlah apa yang engkau suka!"

"Kesukaanku hanya satu." kata si dukun.

"Apa?" tanya si Raja.

"Lanjutlah usia Sri Baginda Raja!"

Hamka menuturkan si dukun tidak minta apa-apa, tidak menghadap apa-apa.  "Kabarnya konon, raja memerintahkan si putra Indonesia dari Palembang tukang urut itu mengepalai rumah sakit kerajaan di Mekkah," tulis Hamka.

"Perintah raja itu ditolaknya, karena dialah yang lebih tahu bahwa jika dia hanya seorang dukun kampung, bukan dokter."

"Dan sampai sekarang, jika Amir Abdullah mengendarai autonya (mobil) di jalan raya Mekkah, bila bertemu dengan dukunnya itu, tidaklah dia lupa. Dia turun dari auto, dihormatinya dan dibahasakannya 'ami' atau paman. Dan terlompatlah uang paun emas buat belajanya (si dukun) sehari-hari," tukas Hamka.

Ada satu hal yang hilang dalam cerita di atas, yakni identitas si dukun urut tersebut. Dengan menganonimkan si dukun membuat kejadian ini seolah seperti fiksi.



Namun, buku Mandi Tjahaja di Tanah Sutji bukanlah buku fiksi laiknya roman Di Bawah Naungan Ka'bah. Meski sama-sama berlatarbelakang kehidupan di Mekkah, buku Mandi Tjahaja di Tanah Sutji adalah buku memoar perjalanan Hamka ketika naik haji pada 1950.

Kala itu Hamka ditunjuk oleh Majelis Pimpinan Haji (MPH) untuk jadi pemimpin rombongan jamaah haji sebanyak 970 orang. 16 Agustus 1950, kapal angkat sauh dari Tanjung Priok menuju Arab Saudi. Hampir selama tiga bulan lebih, Hamka mengumpulkan fragmen pengalamannya berhaji dalam sebuah buku.

Henry Chambert-Loir, peneliti di peneliti di Ecole Française d'Extrême-Orient dalam bukunya berjudul Naik Haji di Masa silam: Kisah-kisah orang Indonesia Naik Haji 1482-1964, memuji buku yang ditulis Hamka ini.

"Hamka menulis hari demi hari, tetapi tidak menceritakan apa yang telah terjadi hari itu: Dia merenungkan suatu topik, mengisahkan suatu cerita, melukiskan potret seseorang [..] Hasilnya sebuah buku yang bergaya spontan dan santai tetapi kayak akan pikiran berbobot tentang berbagai macam soal kontemporer."

Berhubung ini memoar, Hamka tentu tidak sedang secara sengaja mengarang-ngarang cerita soal dukun urut asal Palembang dan Raja Saudi ini. Jika menilik dari keseluruhan isi tulisan, titik berat dari kisah yang dituliskan Hamka pada 5 Oktober 1950 sebenarnya bukanlah soal dukun, namun soal kisah mukimin alias orang-orang Indonesia yang bermukim di Arab Saudi.

Kisah si dukun sebenarnya bumbu cerita soal kesuksesan orang-orang Indonesia yang diangkat jadi pegawai kerajaan. Sebelum memulai cerita si dukun, Hamka bertutur lebih dulu soal kisah si Mustafa.

"Raja Abdul Aziz merasa senang sekali jika memakai pegawai bangsa kita. Kepala polisi penjaga istimewa Raja Abdul Aziz adalah putra Indonesia. Namanya Mustafa Gukguk. Pangkatnya naik lantaran pada suatu ketika budak istana lari, dan tak ada yang berani menangkap, maka dengan 'silat Padang' Mustafa dapat mengelakan serangan jembia (sejenis senjata tradisional laras pendek, seperti keris/belati), dan merampas jembia itu dari tangan si budak."

Dari sanalah akhirnya Mustafa Guguk menjadi kepala polisi Riyadh.

Dalam setiap fragmen kisah-kisah mukimin itu, Hamka selalu memberikan identitas subjek secara detil, mulai dari nama si tokoh, tempat tinggal sampai kepada siapa bekerja. Kedetailan sayangnya tidak dipapar rinci saat menceritakan kisah si dukun urut. Apa yang dilakukan Hamka tentu sah-sah saja demi melindungi si dukun agar tak dipenggal di Arab Saudi sana.



Sumber : islamsejati.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Kisah Raja Saudi 'Diselamatkan' Dukun Palembang dan Silat Padang "

Posting Komentar