Kenapa Sufi Kaya Raya Namun Hidup Dalam Gubuk Sederhana?


Image result for tokoh sufi

Ada sebuah kenangan dimasa silam bersama Guru tak terlupakan, ketika berada dalam satu mobil dengan Guru. Saya waktu itu sedang memiliki keinginan untuk membuat rumah besar dan megah. Guru “menangkap” apa yang terbersit di dalam fikiran saya, maka Beliau mengajak saya keliling-keliling dan kami memasuki kawasan perumahan elit. Setelah 15 menit keliling perumahan bagus tersebut, Guru berkata, “Coba kau perhatikan rumah-rumah besar itu, rata-rata pemiliknya tidak tinggal disana, hanya dijaga pembantu dan satpam saja, lalu untuk apa mereka membangun rumah besar kalau tidak ditempati?”.

Pertanyaan Guru itu mengingatkan saya akan sebuah kisah seorang sufi bernama Nidzam al-Mahmudi yang kaya namun memilih membuat rumah kecil dan sederhana. Kisah ini saya kutip dari blog sufipasrah.

Tersebutlah seorang sufi bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan.

Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yang bergantung padanya.

Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya pernah bertanya: “Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah. Bukankah Ayah mampu?”

Sang Ayah pun menjawab: “Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil:

Pertama, Karena betapapun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah.” Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya.

Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih leluasa.

Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?”

Si anak tercenung, alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah, akan tetapi keringatnya setiap hari selalu bercucuran.

Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata.

Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudian anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan: “Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/ gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat?

Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahklukNya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja.”

Suasana dalam mobil menjadi hening, ketika keluar dari komplek perumahan mewah, Guru berkata, “Kesenangan bagi aku bukan memiliki rumah besar dan megah, tapi sebuah rumah yang seluruh orang senang datang berkunjung dan orang merasakan seperti berada di rumah sendiri”.



Sumber : sufimuda.net

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to " Kenapa Sufi Kaya Raya Namun Hidup Dalam Gubuk Sederhana? "