INNALILLAHI... Ustadz "Suara Pergerakan" itu Telah Wafat



Kepergian Ustadz Muhammad Taufik Ridho untuk selama-lamanya meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi sejumlah pihak yang pernah berinteraksi langsung semasa hidupnya.

Seperti penuturan salah satu muridnya bernama Nandang Burhanudin yang menuliskan tentang sosok Ustadz Taufik Ridho yang merupakan pribadi luar biasa.

Berikut tulisannya yang berjudul : Ustadz "Suara Pergerakan" itu Wafat yang dipublikasikan di akun Facebook pribadi beberapa saat setelah kabar wafatnya Ustadz Muhammad Taufik Ridho, senin (6/2/2017).

Ustadz "Suara Pergerakan" itu Wafat
oleh: Nandang Burhanudin

Allah takdirkan. Guru, murobbi, sahabat dan orang terdekat saya, meraih cinta Allah terlebih dahulu dalam waktu berdekatan.

Beliau Allahuyarham, Ustadz Taufiq Ridla, Lc. Saya tak sempat lagi berinteraksi, kecuali saat beliau meminta saya memimpin shalat jenazah almarhum Ustaz Ali Utsman beberapa waktu lalu.

Saya persaksikan. Almarhum Ustadz Taufiq Ridla adalah orang shalih, muharrik dakwah, dan sosok panutan di jalan kebaikan.

Sepanjang hayatnya, selain aktif memasyarakatkan ekonomi syariah. Beliau adalah penulis lagu-lagu nasyid Shoutul Harokah. Juga munsyidnya sekaligus.

Bagi saya. Beliau memiliki sifat hamalah aufiya. Pemikul dakwah yang tuntas dalam menjalankan amanahnya. Menolak rangkap jabatan. Enggan pamer tongkat komando.

Demi fokus dakwah, beliau menolak dicalonkan menjadi Aleg. Padahal posisi beliau sebagai Ketua DPW Jabar dan Sekjen DPP PKS.

Beliau juga termasuk qaadah adzkiyaa. Saat berada di posisi qiyadah, cerdas dan lugas. Walau bagi beberapa kalangan, terkesan kaku dan menolak kompromi.

Allahuyarham juga memiliki hirasah (kewaspadaan) yang memadai, terutama dalam membentengi dakwah dari anasir-anasir yang hendak merusak dari dalam.

Kita patut mengacungi jempol, zaman jahiliyah seperti saat ini, beliau termasuk manusia langka: memilih mundur dari jabatan Sekjen sebuah partai Islam nasional.

Allahu yarham pun selalu menegaskan pentingnya senjata strategis yang layak dimiliki kader dakwah. Di antaranya, kader dakwah harus kaya.

Selama saya jadi murid. Kenangan terindah adalah ketika saya SMP, beliau menghadiahi kaset Nasyid Ghuroba dan buku-buku kecil (kutaib) berbahasa Arab.

Pun saat saya melakukan perjalanan ke Jordania lanjut Syiria. Saya dijamu beliau, rela meluangkan waktu demi berdialog dan bertukar pengalaman.

Sejak Ahad, saya hanya bisa menatap beliau di balik kaca ruang ICU RSCM. Saya hanya bisa menengadahkan tangan, mendoakan almarhum Allah karuniakan pahala mujahid.

Saya bertekad, fikroh dakwah dan spirit harokinya, harus terus menyebar dan mengakar. Fikroh sepenggal Firdaus untuk Indonesia, jangan sampai terbawa ke alam baqa.
[islamedia]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " INNALILLAHI... Ustadz "Suara Pergerakan" itu Telah Wafat "

Poskan Komentar