Merinding Bacanya : Kisah Saat Rasulullah Lapar Bersama Rakyatnya (Siapkan Tisu saat Membacanya)



Salah satu keteladanan indah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin harus senasib-sepenanggungan dengan rakyat. Jika rakyat hidup serba kekurangan, maka pemimpin juga harus ikut merasakannya. Pemimpin tidak boleh hidup berkecukupan, di saat rakyatnya mengalami kelaparan dan kesulitan.

Rasulullah SAW sebagai pemimpin negara berulang kali mengalami kondisi kelaparan, sehari makan dan sehari tidak. Beliau dan keluarganya tidak pernah merasakan makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Hal itu terjadi tidak terbatas di awal-awal kedatangan Rasulullah SAW dan keluarganya di Madinah. Hal itu terjadi sampai waktu beliau meninggal, yang berarti kurang lebih 10 tahun penuh.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ

“Sejak datang di Madinah sampai waktu beliau meninggal dunia, keluarga Nabi Muhammad SAW tidak pernah makan roti dari tepung gandum sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu membandingkan kemakmuran kaum muslimin di zaman pemerintahan beliau dengan kemiskinan di zaman Nabi SAW. Lalu Umar bin Khathab berkata,

لَقَدْ رَأَيْتُ نَبِيَّكُمْ صلى الله عليه وسلم وَمَا يَجِدُ مِنَ الدَّقَلِ مَا يَمْلأُ بِهِ بَطْنَهُ

“Sungguh saya telah melihat Nabi kalian tidak mendapati walau sekedar kurma yang buruk, untuk sekedar mengganjal perut beliau.” (HR. Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW berjalan-jalan di tengah siang hari. Lalu beliau bertemu dengan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khatab. Beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar dari rumah pada saat panas terik seperti ini?” Keduanya menjawab, “Kelaparan, wahai Rasulullah.” Maka beliau pun bersabda, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, aku keluar dari rumah juga karena alasan yang sama.” (HR. Muslim)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat sedang menggali parit pertahanan sekeliling kota Madinah sebelum datangnya serangan pasukan Ahzab. Beliau SAW dan para sahabat mengalami kelaparan yang hebat karena tidak mencicipi makanan selama tiga hari berturut-turut. Rasulullah SAW sampai mengganjal perut beliau dengan batu. Jabir bin Abdillah kemudian menyembelih seekor kambing dan istrinya memasak dagingnya serta membuat roti dari tepung gandum. Dengan berkah doa Rasulullah SAW, sedikit makanan tersebut dinikmati bersama oleh puluhan sahabat.

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa dalam peristiwa penggalian parit pertahanan tersebut, Abu Thalhah berkata kepada istrinya, Ummu Sulaim binti Milhan,

لَقَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ

“Sungguh aku telah mendengar suara Rasulullah SAW lemah, karena kelaparan yang beliau rasakan. Apakah engkau memiliki sedikit makanan?”

Dalam lafal riwayat Bukhari dan Muslim lainnya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari saya mendatangi Rasulullah SAW. Saat itu beliau duduk-duduk bersama para sahabat. Saya melihat beliau mengikat perut beliau dengan seutas tali. Maka saya bertanya kepada sebagian sahabat ‘Kenapa Rasulullah SAW mengikat perutnya?’ Mereka menjawab, “Karena lapar.” [opinibangsa.com / kn]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Merinding Bacanya : Kisah Saat Rasulullah Lapar Bersama Rakyatnya (Siapkan Tisu saat Membacanya) "

Posting Komentar