Belajar Dari Tumpukan Batu [Share]




Setelah tamat dari universitas tidak beberapa lama, aku ditugaskan di
sebuah kota kecil kawasan hutan terpencil sebagai guru, gajinya sangat
kecil. Sebenarnya aku mempunyai kelebihan yang tidak sedikit,
keterampilan dasar mengajar cukup baik, dan mempunyai keahlian khusus
menulis karangan. Kemudian, di satu sisi aku mengeluh pada takdir yang
tidak adil, dan pada sisi lainnya merasa iri dengan orang-orang yang
memiliki pekerjaan terhormat, menerima gaji yang tinggi. Jika
demikian, bukan hanya sudah tidak bergairah terhadap pekerjaan, bahkan
untuk menulis karangan juga sudah tidak berminat lagi. Seharian penuh,
aku terus memperindah karangan, membayangkan bisa mempunyai kesempatan
untuk memilih sebuah lingkungan kerja yang baik, dan juga menerima
imbalan yang besar.

Begitulah waktu dua tahun telah berlalu dengan cepat, pekerjaan yang
kulakukan sendiri tidak keruan, dalam karang-mengarang juga tidak ada
hasil apa-apa. Sementara itu, aku telah mencoba memadukan beberapa
bagian yang kusukai sendiri, namun pada akhirnya tidak ada satu pun
yang menerimaku.

Lalu, muncullah tanpa sengaja sebuah masalah kecil yang sepele, tapi
mampu mengubah nasib yang selama ini memang ingin kuubah.

Pada hari itu, sekolah menyelenggarakan pekan olahraga, di kota kecil
yang sangat kekurangan aktivitas kebudayaan ini, sudah pasti merupakan
suatu hal yang besar, oleh karenanya, orang yang datang untuk melihat
sangat banyak. Sekeliling lapangan olahraga yang tidak begitu luas
dengan cepat telah membentuk lingkaran tembok manusia hingga angin tak
bisa berembus. Aku datang terlambat, berdiri di balik tembok manusia,
menjungkitkan kaki juga tidak bisa melihat suasana yang ramai di
dalamnya. Pada saat demikian, seorang bocah lelaki pendek yang berada
di samping telah menarik perhatianku. Hanya melihat dia sekali demi
sekali memindahkan batu bata dari tempat yang tidak jauh, di balik
tembok manusia yang tebal itu, dengan sabar membangun sebuah pijakan,
setingkat demi setingkat, tak kurang dari setengah meter tingginya.

Aku tidak tahu sudah berapa banyak waktu yang digunakannya untuk
membangun "panggung" ini, dan juga tidak tahu sudah berapa banyak
pertandingan seru yang terlewatkan, namun saat dia naik ke atas
pijakan yang dibangunnya, ia mengarah kepadaku sambil tersenyum
berseri-seri. Kegirangan dan rasa bangga atas keberhasilan itu, tampak
demikian jelas di wajahnya.

Sekilas, hatiku terguncang sejenak, masalah yang demikian
sederhananya: "jika ingin melintasi tembok manusia yang padat untuk
dapat melihat pertandingan yang seru, cukup ganjalkan saja batu bata
yang agak banyak di bawah kaki."

Sejak saat itu, dengan penuh semangat aku mulai bekerja dengan
sungguh-sungguh, selangkah demi selangkah. Dan dalam waktu yang
singkat, aku telah menjadi juru didik terkenal. Berbagai jenis susunan
bahan pelajaran terbit terus-menerus, dan berbagai macam kehormatan
yang membuat orang iri berturut-turut jatuh ke tanganku. Di waktu
luang, aku tidak berhenti menulis karangan, berbagai macam karya
sastra kerap kali dimuat di surat kabar, menjadi orang yang secara
khusus menyumbangkan karangan ke banyak penerbitan. Kini, aku telah
bertugas di sekolah menengah kejuruan dan dimutasi ke tempat yang
kusukai sendiri.

Sebenarnya, seseorang yang memiliki cita-cita asal saja tidak takut
susah, secara diam-diam "mengganjal batu bata yang agak banyak di
bawah kaki sendiri", maka pasti bisa melihat pemandangan yang ingin
dilihat sendiri, memetik buah hasil kesuksesan itu yang digantungkan
ke tempat yang tinggi.



Sumber : inspirasidaily.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Belajar Dari Tumpukan Batu [Share] "

Posting Komentar